| 0 komentar ]

Serutan kelapa muda berpadu dengan gula aren, goyobod dan pasrahan batu es, puaskan rasa dahaga.

Bagi pecinta es di Surabaya, kini ada alternatif baru untuk Anda, Es goyobod. Di kota pahlawan, minuman asli Bandung ini baru di temukan satu penjual saja. Diatas sebuah gerobak, setiap hari mulai dari jam 17.00 WIB Anda dapat menjumpainya di jalan Kertajaya Gg VII-C.
Goyobod, telinga orang Jawa Timur asing mendengar nama tersebut. Bahan dasarnya terbuat dari tepung kanji pohon aren yang diendapkan hingga menyerupai agar-agar. Kita dapat menemukan cita rasa agar-agar yang manis dan sedikit kenyal. Warnanya hijau yang nampak segar akan mengundang selera untuk menikmatinya.
Penyajian es goyobod sungguh menggoda. Dikombinasikan dengan manis gula aren, lembutnya serutan kelapa muda, dingin pasrahan batu es, sensasi roti tawar, kolang-kaling, mutiara dan siraman susu kental manis diatasnya. Membuat sajian semakin cantik. Benar-benar sajian yang nikmat dan bergizi.
Uniknya, Ketebalan serutan kelapa muda dapat mempengaruhi rasa yang didapatkan. Makin tipis serutan, makin nikmat rasanya. Tergantung keahlian penjual dalam mengolah kelapa muda.
Di daerah asalnya, es goyobod dilengkapi dengan alpukat. Harga alpukat di Surabaya yang tidak menentu dan relatif mahal, membuat si penjulal tidak menambahkannya di kota ini. Untuk menyiasatinya, goyobod yang memiliki warna dasar putih, disulap menjadi warna hijau agar menyerupai alpukat dengan mencampurkan pasta.
Selain itu, perbedaan lain dengan yang ada di kota asalnya adalah kandungan gula aren yang dicampurkan. Di Surabaya lebih manis dari pada di Bandung. “Karena orang sini suka rasa yang lebih manis,” tutur Nanang Supriatna, satu-satunya penjual es goyobod di Surabaya.
Nanang mengolah sendiri hampir semua bahan es goyobod, dari goyobod, mutiara sampai gula aren. Untuk gula aren, nanang mengkombinasikan gula merah dengan gula jawa, menghasilkan sensasi manis yang tak berujung.
“Butuh keahlian khusus untuk membuat gulanya. Dulu dapat dikirim langsung dari Bandung. Tapi sekarang sudah bisa buat sendiri,” ujarnya.

Dulu, ketika petani panen, ibu-ibu berduyun-duyun membawa es goyobod datang ke sawah untuk menukarkannya dengan hasil panen. “Es goyobod biasanya ditukarkan dengan jagung. Selain itu, juga bisa digunakan untuk obat sakit dalam,” imbuh pemuda asli Garut ini.
Es goyobod sudah banyak peminatnya di Bandung dan Jakarta, Anda dapat menikmati sajian manis kaya gizi ini hanya dengan harga 4000 rupiah per porsinya. Suasana malam sambil meneguk segarnya es goyobod di kaki lima begitu asyik dan sayang untuk dilewatkan. Bagaimana, Anda berminat mencobanya? (T/F: Subagus Indra)










[baca selengkapnya]
| 2 komentar ]

Menutup rangkaian acara Surabaya juang, dalam rangka memeringati hari pahlawan, Selasa (10/11) Surabaya menggelar konser musik dengan tajuk simfoni untuk bangsa. Dengan menggandeng salah satu televisi swasta dan perusahan rokok Indonesia, event yang diselenggarakan di tugu pahlawan tersebut diisi tiga grup band ternama Indonesia, Ungu, ST 12 dan The Changcuters.


Pagelaran yang dimulai pukul 19.30-22.00 WIB itu dibuka oleh penampilan Ungu yang berkolabirasi dengan Charly ST 12 lewat lagu ‘Hampa Hatiku’. Disusul ST 12 dan The Changcuters. Masing-masing membawakan lagu-lagu andalan mereka.

Untuk menghormati jasa pahlawan, masing-masing grup band juga membawakan satu lagu nasional yang sudah mereka aransemen ulang. Ungu membawakan lagu ‘Gugur Bunga’, ST 12 dengan ‘Berkibarlah Benderaku’ diiringi kibaran bendera merah putih oleh Paskibraka, dan The Changcuters menyulap lagu ‘Maju tak Gentar’ sesuai gaya musik khas mereka. “Seharusnya kita bangga dengan pahlawan yang sudah berkorban buat bangsa ini, berkat mereka sekarang kita bisa hidup enak, bisa sekolah enak, dan bisa blackberry-an,” Ujar Tria, vokalis The Changcuters.

Ia menambahkan, jangan sampai makna yang terkandung dalam peringatan hari pahlawan hilang atau bahkan tidak diketahui, karena hari pahlawan mempunyai esensi besar dalam perjuangan memeroleh kemerdekaan Indonesia seutuhnya.

Berbeda dengan tahun lalu, Acara terpaksa dihentikan akibat dirundung hujan ditengah konser, kali ini berjalan lancar. Namun, jatuhnya korban akibat desakan antar penonton tak dapat dihindarkan. Akhir acara, ditutup dengan pertunjukan kembang api.


Konser Sukses, Jukir Ndrenges

Kemeriahan konser simfoni untuk bangsa tak hanya memuaskan penonton. Namun, pihak lain pun ikut merasa hal serupa, khususnya Jukir (juru parkir). Mereka meraup rezeki berlimpah berkat acara tersebut dengan menaikkan tarif parkir lima kali lipat dari hari biasa.

Suasana meriah itu nampak dari antusiasme penonton yang tinggi sampai totalitas penampilan artis pengisi acara. Selain itu, munculnya tempat parkir dadakan di sepanjang akses menuju tempat pagelaran ikut meramaikan acara tahunan itu.

Lutfhi, salah satu Jukir yang biasa mendirikan area parkir di jalan Kramat Gantung. Jika pada hari biasa ia hanya memasang tarif 1000 rupiah per motor, malam itu ia mematok tarif 5000 rupiah per motor.

Tak hanya Lutfhi, semua tempat parkir yang buka malam itu juga memasang tarif sama. “Ya, Alhamdulillah mas, kira-kira kurang lebih kita dapat 500 ribu rupiah,” aku pemuda yang bertempat tinggal di jalan Bundi tersebut.

Hal ini mendapat respon positif dari masyarakat yang menggunakan jasa parkir itu. “Nggak apa-apa, yang penting aman,” Ujar Reza, salah satu orang yang parkir di tempat itu. Untuk keamanan dan kelancaran, lutfhi dibantu enam orang temannya menjaga area parkir sepanjang lebih kurang 50 meter.(T: Subagus Indra)


















[baca selengkapnya]
| 0 komentar ]

Sabtu malam (07/11) pukul 19.00 di Gedung kesenian Cak Durasim beberapa kelompok teater menyuguhkan karyanya. Pagelaran teater sebagai rangkaian peringatan hari pahlawan 10 november 2009 diawali suguhan teatrikal bertema “Bumi Para Wong” oleh Teater Tiang dari FKIP Universitas Jember, Jember.

Pegelaran yang diperankan oleh sebelas orang tersebut menceritakan perubahan karakter seorang warok. Sejatinya warok memilki tabiat ksatria, sangar atau kekar, dan sangat terikat dengan dunia spiritual. “sejak semua warok dinikahkan oleh Presiden Soeharto pada tahun 80-an, dari situ terjadi perubahan pada diri pribadi para Warok”, tutur ferick yang memerankan tokoh wong Laga (logo, jawa).

Perubahan yang terjadi pada Warok misalnya dalam menyikapi masalah. Jika dulunya dengan cara kesatria. Tidak demikian sekarang. Mereka para Warok cenderung pragmatis atau mencari jalan tengah, namun tidak meninggalkan nilai-nilai kewarokan.”kebiasan yang digunakan warok sekarang berbeda dengan dulu, tapi tetap tidak meninggalkan ciri khasnya” terang mahasiswa FKIP Universitas Jember tersebut.

Tambahnya pula, untuk melestarikan tradisi dan penerus Warok agar tidak punah. Mereka diperkenankan menikah. Dengan syarat pernikahan yang dilaksanakan tidak didasari keinginan nafsu atau hasrat seksual. Melainkan hanya terbatas bisa melahirkan seorang anak. Pasalnya, dahulu sebenarnya menikah adalah pantangan tersendiri bagi warok. Maka dari itu biasanya setiap warok memiliki gemblok atau ingon-ingon (murid atau anak asuh).”mereka sebagai pelampiasan sek sang Warok, namun itu bukan homo” Pungkas Ferick. (Naskahdan Foto : Robbah Mahzumi)








[baca selengkapnya]